Tuesday, 26 April 2011

6 Persoalan Hidup



Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al-Ghazali bertanya,

1 - Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"

 Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman dan kerabatnya.

Imam Ghazali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati, dan bahawasanya pada hari kiamat sahajalah akan disempurnakan balasan kamu. Ketika itu sesiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga maka sesungguhnya ia telah berjaya. Dan (ingatlah bahawa) kehidupan di dunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya. (Surah Ali Imran, 185)

2 - Lalu Imam Ghazali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"

Murid-muridnya ada yang menjawab negara China, bulan, matahari dan bintang-bintang.

Lalu Imam Ghazali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "Masa Lalu"



Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak boleh kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.


3 - Lalu Imam Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?"

Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi dan matahari. 

Semua jawapan itu benar kata Imam Ghazali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu".Justeru nafsu yang menguasai diri , menyebabkan manusia gagal menggunakan akal , mata , telinga dan hati yang dikurniakan oleh Allah SWT untuk hidup berlandaskan kebenaran . Fenomena ini menyebabkan mereka terjerumus ke dalam Api neraka Jahanam .


Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mahu memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai. (Surah Al A'araaf, 179)

Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka .


4 - Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?"

Ada yang menjawab baja, besi dan gajah. 

Semua jawapan hampir benar, kata Imam Ghazali, tapi yang paling berat adalah "Memegang Amanah".
Sesungguhnya Kami telah kemukakan tanggungjawab amanah (Kami) kepada langit dan bumi serta gunung-ganang (untuk memikulnya), maka mereka enggan memikulnya dan bimbang tidak dapat menyempurnakannya (kerana tidak ada pada mereka persediaan untuk memikulnya); dan (pada ketika itu) manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya. (Ingatlah) sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka pula membuat perkara-perkara yang tidak patut dikerjakan. (Surah Al-Ahzaab, 72)

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka kerana ia tidak bisa memegang amanahnya.


5 - Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?"

Ada yang menjawab kapas, angin, debu dan daun-daunan.

 Semua itu benar kata Imam Ghazali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "Meninggalkan Solat". Gara-gara pekerjaan, kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan solat.



6 - Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"

Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang.

 Benar kata Imam Ghazali, tapi yang paling tajam adalah "Lidah Manusia". Kerana melalui lidah, manusia  dengan begitu mudah menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.



Kesimpulannya:



Tauhid (Part 3)

Tauhid

Tauhid adalah pecahan dari kata wahid. Dikatakan Wahhid Syaia artinya jadikan dan ikatlah ia menjadi satu. Sedang Tauhid (mengesakan) Allah adalah dengan meyakini akan keesaan Allah dalam Rububiyah (penciptaan, Pemeliharaan, Pemilikan), nama-nama dan sifat-Nya serta meyakini bahwa Allah adalah Rabb yang merajai yang berhak untuk diibadahi. Maka tauhid adalah mengesakan Allah dengan segala apa yang menjadi spesifik (kekhususan) Nya dari ibadah qauliyah maupun fi’liyah. Ia merupakan dasar Islam. Dari dasar tersebut terpancar seluruh aturan, hukum, perintah dan larangan-Nya.

Pembagian Tauhid

1-    Tauhid Rububiyah
Yaitu meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Pencipta hamba dan Pemberi rizki mereka, yang Menghidupkan dan Mematikan mereka. Atau kita katakan : Mengesakan Allah dengan perbuatan-Nya, seperti meyakini bahwa Allah adalah Al-Kholiq (Maha Pencipta) dan Ar Raziq (Maha Pemberi rizki).
Keyakinan ini juga diakui kaum musyrikin lampau serta seluruh  pemeluk agama dari yahudi, nashoro, shabiin (penyembah bintang) dan majusi. Tidak ada yang mengingkari tauhid ini selain kaum Dahriyah yang lampau (di zaman kita, Kaum atheis)
Dalil Tauhid Rububiyah:
Dikatakan kepada mereka yang mengingkari Rabb Yang Maha Mulia: Bahwa siapa yang memiliki akal yang sehat tidak akan menerima suatu bekas tanpa ada yang meninggalkannya, perbuatan tanpa ada yang berbuat, ciptaan tanpa ada yang menciptakan.
Diantara perkara yang tidak diperselisihkan apabila anda melihat sebuah jarum anda yakin bahwa jarum tersebut ada pembuatnya. Maka bagaimana halnya dengan alam yang agung ini yang mengherankan akal dan membuat bingung pikiran telah ada tanpa ada yang mengadakan?! Teratur tanpa ada yang mengatur. Semua apa yang ada di dalamnya dari bintang-bintang, awan, kilat, petir, daratan dan lautan, malam dan siang, gelap dan terang, pohon-pohon dan bunga-bunga, jin dan manusia hingga berbagai macam yang tidak bisa lagi dihitung oleh bilangan telah ada tanpa ada yang mengadakan yang mengeluarkannya dari sebelumnya tidak ada! Ya  Allah ini tidak dikatakan orang yang masih memiliki sedikit akal dan seberat atom pemahaman.
Intinya, bukti-bukti atas rububiyah Allah tidak bisa dibilang. Maha benar Allah tatkala berfirman:
}أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ{ (35) سورة الطور
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka sendiri yang menciptakan (Ath Thur :35)
Dan Firman-Nya :
}اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ{(62) سورة الزمر
Allah Pencipta segala sesuatu sedang Dia Maha Mengurus segala sesuatu (Az Zumar : 62)
Diantara dali-dalil akal apa yang dikisahkan dari Imam Abi Hanifah semoga Allah merahmatinya: Sesungguhnya ada suatu kaum ahli kalam yang menginginkan pembahasan dengannya dalam rangka menetapkan tauhid rububiyah. Maka Abu Hanifah berkata kepada  mereka: sebelum kita membicarakan tentang persoalan ini beritahukan kepadaku tentang suatu bahtera di lautan dimana bahtera itu pergi memenuhi makanan, barang-barang dan yang lain dengan sendiri lalu berlabuh dengan sendiri dan menurunkan barang-barang dan kembali. Semua itu tanpa ada seorangpun yang mengatur?! Mereka lalu mengatakan : ini suatu yang mustahi dan tidak akan mungkin terjadi selamanya! Maka Abu Hanifah berkata kepada mereka: Jika hal ini mustahil terjadi pada suatu bahtera lantas bagaimana halnya dengan alam semesta ini seluruhnya, yang atas maupun yang bawah!! (kisah ini juga diceritakan dari selain Abu Hanifah)

Dalil pengakuan kaum musyrikin terhadap tauhid rububiyah:
Allah Ta’ala berfirman:
}وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ{(25) سورة لقمان
 Jika kalian tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi niscaya mereka menyatakan Allah. Katakanlah segala puji bagi Allah akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (Luqman:25)
Firman Allah Ta’ala:
}قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ(31)فَذَلِكُمُ اللّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ{(32) سورة يونس
 Katakanlah siapakah yang melimpahkan rizki kepada kalian dari langit dan bumi atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka mengatakan Allah. Maka katakanlah tidakkah kalian mau bertaqwa. Itulah Allah Rabb kalian yang hak. Maka tidaklah setelah hak itu melainkan kesesatan. Maka bagaimana kalian dipalingkan (Yunus:31-32)
}وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ{(9) سورة الزخرف
Firman Allah Ta’ala: Jika kalian tanyakan kepada mereka siapakah gerangan yang telah meanciptakan langit dan bumi niscaya mereka menyatakan semua itu diciptakan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (Az Zukhruf:9)

Catatan:
Tauhid Rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam agama Islam melainkan jika menyertakan pula tauhid uluhiyah.


2-    Tauhid Uluhiyah
Tauhid ini disebut pula tauhid ibadah. Yaitu mengesakan Allah dengan ibadah. Sebab Dialah yang berhak untuk diibadahi bukan selain-Nya sekalipun tinggi derajat dan kedudukannya.
Ia mearupakan tauhid yang dibawa para Rasul ke umat-umat mereka. Sebab para rasul –‘alaihissalam- datang dengan menetapkan tauhid rububiyah yang diyakini umat mereka lalu menyeru mereka kepada tauhid uluhiyah sebagaimana yang diberitakan Allah tentang mereka dalam kitab-Nya yang mulia.
Allah Ta’ala berfirman mengisahkan Nuh as:
}وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ (25) أَن لاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ اللّهَ إِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ { (26) سورة هود
Dan telah Kami utus Nuh kepada kaumnya (seraya mengatakan) sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. Janganlah kalian meanyembah melainkan kepada Allah sesungguhnya aku takut atas kalian akan azab pada hari yang sangat pedih (Hud : 25-26)
Allah Ta’ala berfirman mengisahkan tentang Musa as ketika berdebat dengan Fir’aun:
}قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ (23) قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إن كُنتُم مُّوقِنِينَ { سورة الشعراء
 Firaun berkata siapakah Rabb alam semesta? Musa berkata: Rabb langit dan bumi serta antara keduanya jika kalian kaum yang yakin (Asy Syuara:23-24)

Allah Ta’ala berfirman mengisahkan tentang Isa as :
 }إِنَّ اللّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ{ (51) سورة آل عمران
Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rab kalian maka sembahlah Dia oleh kalian. Inilah jalan yang lurus. (Ali Imron : 51) 
Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW untuk meanyatakan kepada ahli kitab:
}قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ{(64) سورة آل عمران
 Katakanlah wahai ahli kitab kemarilah kepada suatu kata sepakat antara kami dengan kalian hendaklah kita tidak menyembah melainkan kepada Allah dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian lain sebagai sesembahan-sesembahan yang ditaati selain Allah. Jika kalian berpaling maka katakanlah saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (Ali Imron :64)
Allah Ta’ala berfirman menyeru semua manusia:
}يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ{(21) سورة البقرة
Wahai manusia sembahlah oleh kalian Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa (Al Baqarah:21)
Intinya: Seluruh rasul diutus dalam rangka tauhid uluhiyah dan menyeru kaumnya kepada mengesakan Allah dengan ibadah dan menjauhi menyembah taghut dan berhala. Sebagaimana Allah berfirman:
}وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ { (36) سورة النحل
Dan telah Kami utus  pada setiap umat seorang rasul (yang menyeru ) sembahlah oleh kalian Allah dan jauhilah taghut (An nahl:36)
Dan telah diperdengarkan dakwah/seruan rasul kepada kaumnya.

Maka pertama kali yang mengetuk pendengaran kaumnya: Dia berkata:
}قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُون{(65) سورة الأعراف
 Wahai kaumku sembahlah oleh kalian Allah tidak ada bagi kalian Ilah selain-Nya. Tidakkah kalian mau bertaqwa (Al A’raf:65)

Tafsir Ibadah

Ibadah secara bahasa maknanya: merendakan diri dan tunduk patuh. Dikatakan thoriq mu’abbad yaitu jalan rendah/mulus (biasa dilewati).
Secara syar’i, makna ibadah  adalah sebagaimana yang dikatakan syaikhul Islam yaitu taat kepada Allah dengan melaksanakan apa yang Allah perintahkan berdasarkan sunnah rasul. Beliau juga berkata: Ibadah merupakan sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah berupa amal, perkataan dan perbuatan yang lahir dan batin. Seorang muslim haruslah mengesakan Rabbnya dengan seluruh macam ibadah dengan mengikhlaskan semata-mata karena Allah serta melaksanakannya sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw baik perkataan dan perbuatan.

Ibadah mencakup macam-macam berikut:
Ketauhilah bahwa ibadah mencakup sholat, thowaf, haji, puasa, nadzar, iktikaf, menyembelih kurban, sujud, rukuk, takut, harap-harap cemas, khosyah (takut disertai pengagungan) tawakal, minta pertolongan, berharap (roja’) serta berbagai macam ibadah yang lain yang disyariatkan Allah dalam Al Qur’an yang mulia atau disyariatkan oleh Rasulullah saw dengan sunnah sahihah baik berbentuk perkataan dan perbuatan. Maka barangsiapa yang memalingkan sedikitpun dari ibadah tersebut kepada selain Allah ia telah berbuat syirik. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
}وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُون   {(117) سورة المؤمنون
Dan barangsiapa menyeru Ilah lain bersama Allah yang tidak ia punyai buktinya yang terang tentangnya maka sesungguhnya perhitungannya menurut Alah. Sesungguhnya tidak akan beruntung kaum kafir itu (Al Mukminun:117)

dan firman-Nya:
}وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا{(18) سورة الجن
 Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah maka janganlah kalian seru bersama Allah seorangpun  (Jin:18)

seseorang disini mencakup semua makhluk baik itu rasul, malaikat atau orang saleh.
 
Sebab kesyirikan Kultus terhadap Orang-orang Sholeh

Dari sini kita ketahui bahwa kesyirikan hanyalah muncul pada keturunan Adam disebabkan kultus terhadap orang-orang sholeh.
Makna kultus: Keterlaluan dalam mengagungkan dengan ucapan maupun keyakinan. Oleh karena ini Allah berfirman:

}يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُولُواْ ثَلاَثَةٌ انتَهُواْ خَيْرًا لَّكُمْ إِنَّمَا اللّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَات وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَفَى بِاللّهِ وَكِيلاً{(171) سورة النساء
Wahai ahli kitab janganlah kalian melampui batas dalam agama kalian dan janganlah kalian menyatakan atas Allah melainkan yang hak. Sesungguhnya al Masih Isa bin Maryam hanyalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam serta ruh dari-Nya (An Nisa:171)
Telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah dari Nabi saw. Aisyah berkata: Tatkala ajal turun kepada Rasulullah saw , melemparkan bajunya kewajahnya
Beliau bersabda dengan keadaan seperti itu :

[لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُوْدَ والنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرِ مَا صَنَعُوا وَلَوْلاَ ذَلِكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خَشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِداً] أخرجه الشيخان
 “ Allah telah melaknat orang-orang yahudi dan nasrani, mereka telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid “, Beliau mengingatkan akan apa yang mereka lakukan, kalaulah bukan karena itu dinampakkanlah kuburan nya, namun beliau khawatir akan dijadikan masjid.  ( dikeluarkan oleh Syaikhon )

     Dan terjadi hal-hal yang berlebihan dari mereka ( Ghuluw ) dalam syair-syair, sampai mereka memperbolehkan istighosah (meminta pertolongan) kepada Rasul dan seluruh orang-orang yang sholeh disetiap sesuatu yang mereka meminta pertolongan kepada Allah, dan mereka menisbatkan padanya ilmu ghaib,  sampai sebagaian orang yang berlebihan itu mengatakan : “ Rasulullah tidak wafat sampai beliau mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi dan mereka menyalahi Al-Qur’an yang sudah sangat jelas.
} وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ {الأنعام 59
dan disisi-Nya kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia”.  (Al-an’am 59)
dan Allah Berfirman :
} إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ} {لقمان 34
Sesungguhnya di sisi Alloh saja Ilmu tentang terjadinya kiamat, Dialah yang menurunkan hujan, dan Dialah yang mengetahui apa-apa yang ada dalam rahim, tidak satu jiwapun yang mengetahui apa yang akan diusahakan besok hari dan tidaklah satu jiwa mengetahui di bumi mana dia akan mati sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui  (QS Luqman : 34)
Allah Berfirman mengabarkan tentang Rasul-Nya saw,
}قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ{(188) سورة الأعراف
Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku manfa’at dan juga tidak (menolak) bahaya kecuali apa yang dikehendaki Alloh, kalau aku mengetahui yang ghoib niscaya saya bisa memperbanyak kebaikan dan tidak terkena bahaya tiada lain saya melainkan pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi kaum beriman
}قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ{ (65) سورة النمل
Katakanlah tidaklah ada yang mengetahui siapa-siapa yang berada di langit maupun di bumi kecuali Alloh dan tidaklah mereka sadar kapan akan dibangkitkan. (QS An-Naml : 65)




3-   Tauhid Asma’ dan Sifat.

Tauhid Asma’ dan Sifat adalah : mengesakan Allah dengan Nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yaitu dengan menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk Dzat-Nya, dari nama-nama dan sifat-sifat didalam kitab-Nya atau yang disampaikan melalui Rasul-Nya saw, dengan tidak mengubah (tahrif), atau meniadakan sama sekali (ta’thil), tidak mengandai-andaikan (takyif) dan tidak mengupamakan (tamtsil).
Dibawah ini disebutkan kaidah-kaidah tentang nama-nama dan sifat-sifat.

Kaidah pertama : Nama-nama dan sifat-sifat Allah yang baik (al-husna) semuanya sempurna. Firman Allah :
}لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلّهِ الْمَثَلُ الأَعْلَىَ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ {(60) سورة النحل
“ Bagi mereka mereka yang tidak beriman kepada hari akhir  perumpamaan yang buruk  dan bagi Allah perumpamaan yang tinggi  dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. An-Nahl 60
}وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ{(180) سورة الأعراف
“ Dan bagi Allahlah nama-nama yang indah maka memohonlah kamu dengan menyebut nama-namanya. Dan tinggalkanlah orang orang yang menyimpang di dalam nama-nama Allah, mereka akan dibalas apa-apa yang mereka lakukan “.
Al-A’raf 180
     Kaidah kedua :  Nama-nama dan sifat Allah merupakan Tauqifiyah, yang sumbernya dari  Al-Qur’an dan Sunnah saja,  nama dan sifat itu tidak terbatas dengan bilangan tertentu bahkan nama dan sifat itu tidak diketahui kecuali sebagiannya saja Allah Berfirman :
}قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ{(33) سورة الأعراف
“ Katakanlah tiada lain yang diharamkan Robku yang buruk-buruk baik apa-apa yang nampak dan yang tersembunyi dan perbuatan dosa, perbuatan yang durhaka, denga tidak yang sebenarnya dan engkau mensekutukan Allah dengan apa-apa yang menurunkan kekuasaan dan engkau mengatakan aatas Allah apa-apa yang kamu tidak mengetahui ilmunya”. Al-A’raf 33
}وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً{سورة الإسراء
“ Janganlah kalian mengikuti apa-apa yang kamu tidak mengetahui ilmunya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati  semuanya itu bertanggung jawab atasnya “.   Al-Isra’ Ayat : 36
  Kaidah ketiga :  tidak diperbolehkan menetapkan nama atau sifat bagi Allah dengan mengumpamakan. Berdasarkan Firman Allah :
}لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ{ (11) سورة الشورى
“ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat “. Asy-Syura 11
} فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ{(74) سورة النحل
“ Dan janganlah kalian membuat perumpamaan bagi Allah, sesunggunya Allah Maha Mengaetahui sedangkan kamu tidak mengetahui “.  An-Nahl 74
    
Sebagaimana tidak diperbolehkan juga meniadakan nama dan sifat bagi Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah karena hal itu mensekutukan Allah, juga tidak boleh meniadakan seluruh nama dan sifat-Nya yang mengharuskan mengubah nash-nash, atau mendustakannya dengan mengurangkan kesucian Allah atau menyerupakan dengan makhluk yang serba kurang (tidak sempurna).
     Kaidah keempat :   Ma’na ma’na tentang nama dan sifat Allah sudah diketahui, sedangkan hakekatnya tidak diketahui dan tidak mengetahuinya selain Allah, Allah Berfirman :
} وَلاَ يُحيْطونَ به علماً {
“ Dan ilmu mereka tidak meliputi  “   Thaha 110
     Kaidah kelima : karena Allah menamakan Dzat-Nya dengan nama-nama yang digunakan oleh sebagaian dari makluq-Nya demikian juga Allah memberikan sifat bagi Dzat-Nya dengan sifat-sifat yang sifat itu digunakan oleh sebagian makhluq-Nya seperti mendengar dan melihat. Hal ini  tidaklah Pendengaran Allah seperti pendengaran makhluq, juga Penglihatan Allah seperti penglihatan makhluq.

   ◙  ◙  ◙  ◙

Hal-hal yang membatalkan Islam
     Sesungguhnya hal yang amat berbahaya dalam membatalkan Islam dan paling banyak tersebar ada sepuluh hal yaitu :
1-      Syirik dalam peribadatan pada Allah. Firman Allah :
}إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء { (48) سورة النساء
“ Sesunggunya Allah tidak mengampuni syirik kepadanya dan mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang dikehendakinya “ An-Nisa’ 48
}إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ{      (72) سورة المائدة
“ Sesungguhnya siapa yang mensekutukan Allah maka sungguh Allah mengharamkan baginya Surga, dan tempat tinggalnya di neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dholim “. Al-maidah 72
Dan termasuk hal itu adalah meminta pada orang yang sudah mati dan meminta pertolongan dengan mereka, bernadhar dan menyembelih korban bagi mereka.

2-      Siapa menjadikan antara dia dengan Allah perantara-perantara, kemudian berdo’a dan meminta syafa’at kepada mereka, dan bertawakal atas mereka, sungguh dia telah kufur menurut kesepakatan ulama,
3-      Siapa yang tidak mengkufurkan kaum musyrikin  atau ragu-ragu dalam kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, ia kufur.
4-      Siapa yang berkeyakinan ada petunjuk lain  yang lebih sempurna  dari petunjuknya Nabi saw, atau ada hukum yang lebih baik dari hukumnya Nabi, seperti orang-orang yang lebih mengutamakan thoghut dari pada hukumnya Nabi, sunguh dia telah kufur.
5-      Siapa yang benci sesuatu dari apa-apa yang dating dari Rasul saw, sekalipun dia mengamalkannya, sungguh dia tealah kufur. Berdasarkan Firman Allah :
}ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ{ (9) سورة محمد
      “ Hal itu karena mereka tidak suka terhadap apa yang diturunkan Allah, maka  terhapuslah amal-amal mereka :. Muhammad 9
6-      Siapa yang mempermainkan sesuatu dari agama yang dibawa Rasul saw, atau pahalanya atau siksaannya, sungguh ia telah kafir. Berdasarkan firman Allah :
}وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ(65)لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ {(66) سورة التوبة سورة التوبة
“ Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan main-main saja, katakanlah : “ Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasulnya kamu berolok-olok ?, Tidak usahlah kamu minta maaf, karena kamu kafir setelah beriman “.    At-Taubah 65-66
  7-  Sihir, dan yang termasuk didalamnya  sesuatu yang dijadikan orang benci atau mencintai seseorang, siapa yang melakukannya atau   rela dengannya, sungguh ia telah kufur dan dalilnya firman Allah Swt,
}وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ { (102) سورة البقرة
           “ Padahal Sulaiman itu tidak kufur (melakukan sihir), hanya syetan-syetan itulah yang kafir (mengerjakan sihir), mereka mengajarkan sihir pada manusia  apa-apa yang diturunkan pada dua Malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya  tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan : “ Sesungguhnya kami ini hanya cobaan bagimu, sebab itu  Janganlah kamu kafir “.  Al-Baqarah 102.
8-  Membantu kaum musyrikin dan memberikan pertolongan pada mereka atas kaum Muslimin. Hal ini  berdasarkan Firman Allah :
}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ{ (51) سورة المائدة
Wahai Orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani sebagai wali (pemimpin, pelindung, teman akrab), sebagian mereka pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa  diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin. Maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk pada orang-orang yang dhalim “. Al-Maidah 51.
7-      Siapa yang mengi’tiqadkan bahwa sebagian manusia boleh keluar dari syari’at Muhammad saw maka dia telah kufur. Berdasarkan firman Allah:
}وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ{ (85) سورة آل عمران
“ Barang siapa yang mencari Dien selain Islam maka tidak akan diterima, dan dia di Akherat kelak termasuk orang-orang yang merugi “. Alu-Imran 85.
8-      Berpaling dari agama Allah, tidak mau belajar dan tidak mengamalkannya, dan dalilnya dari Firman Allah : 

}وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ     {سورة السجدة

“ Dan siapakah yang lebih dhalim dari pada orang-orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Robbnya, kemudian ia berpaling dari padanya ?, sesungguhnya Kami memberikan pembalasan terhadap orang-orang yang dhalim “.  As-Sajadah 22.

     Dan tidak berbeda antara orang yang melakukan ini dengan bermain-main, atau sungguh sungguh atau yang takut, kecuali orang yang dipaksa, berdasarkan Firman Allah :
}مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ{ (106) سورة النحل
“ Dan barang siapa kufur kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah akan menimpanya dan baginya adzab yang besar “.   An-Nahl 106.
Dan semua hal diatas merupakan hal-hal yang paling berbahaya dan paling banyak terjadi, maka selayaknya bagi seorang Muslim untuk mewaspadainya dan takut menimpa atas dirinya.
Kita berlindung pada Allah dari hal-hal yang mendatangkan Murka Allah dan kepedihan adzab-Nya.


Tuesday, 12 April 2011

Kisah Imam Abu Hanifah & 3 Imam~

Imam Abu Hanifah adalah seorang Imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab.

Beliau berketurunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam  yang lain, iaitu sama-sama menegakkan Al-Quran dan sunnah Nabi SAW. Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bertepatan tahun 699 Masihi di sebuah kota bernama Kufah. Nama yang sebenarnya ialah Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. Kemudian masyhur dengan gelaran Imam Hanafi.

Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab :
1. Kerana beliau mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah, maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah.

2. Kerana semenjak kecilnya sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya, maka ia dianggap seorang yang hanif (kecenderungan/condong) pada agama. Itulah sebabnya beliau masyhur dengan gelaran Abu Hanifah.

3. Menurut bahasa Persia, Hanifah bererti tinta. Imam Hanafi sangat rajin menulis hadith-hadith, ke mana, beliau pergi selalu membawa tinta. Kerana  itu beliau dinamakan Abu Hanifah.

Waktu beliau dilahirkan, pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan, dari keturunan Bani Umaiyyah kelima. Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan lagi, beliau sangat mahir  tentang ilmu fiqh, ilmu tauhid, ilmu kalam, dan juga ilmu hadith. Di samping itu beliau juga pandai dalam ilmu kesusasteraan dan hikmah.

Imam Hanafi adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh, seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan keredhaan Allah SWT. Walaupun demikian orang-orang yang berjiwa jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau.

Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. Untuk kebenaran ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya. Dengan keberaniannya itu beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar.Kerana menurut Imam Hanafi kalau kemungkaran itu tidak dicegah, bukan orang yang berbuat kejahatan itu saja yang akan merasakan akibatnya bahkan termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut

Sebahagian dilukiskan dalam sebuah hadith Rasulullah SAW bahawa bumi ini diumpamakan sebuah bahtera yang didiami oleh dua kumpulan. Kumpulan pertama adalah terdiri orang yang baik-baik sementara kumpulan kedua terdiri dari yang jahat-jahat. Kalau kumpulan jahat ini mahu merosakkan bahtera dan kumpulan baik itu tidak mahu mencegahnya, maka seluruh penghuni bahtera itu akan binasa. Tetapi sebaliknya jika kumpulan yang baik itu mahu mencegah perbuatan orang-orang yang mahu membuat kerosakan di atas bahtera itu, maka semuanya akan selamat.

Sifat Imam Hanafi yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya. Beliau menolak pangkat dan menolak wang yang diberikan kepadanya. Akibat dari penolakannya itu beliau ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam penjara beliau diseksa, dipukul dan sebagainya.

Gabenor  Iraq pada waktu itu ialah Yazid bin Hurairah Al-Fazzari. Selaku pemimpin beliau tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya. Pernah pada suatu ketika Imam Hanafi akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul mal), tetapi pengangkatan itu ditolaknya. Beliau tidak mahu menerima kedudukan tinggi tersebut. Sampai berulang kali Gabenor Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya, namun tetap ditolaknya.

Pada waktu yang lain Gabenor Yazid menawarkan pangkat Kadi (hakim) tetapi juga ditolaknya. Rupanya Yazid tidak senang melihat sikap Imam Hanafi tersebut. Seolah-olah Imam Hanafi memusuhi pemerintah, Kerana itu timbul rasa curiganya. Oleh kerana itu beliau diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera. Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jawatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya.

Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqh yang terkemuka di Iraq, dikumpulkan di muka istananya. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila. Ibnu Syblamah, Daud bin Abi Hind dan lain-lain. Kepada mereka, masing-masing diberi kedudukan rasmi oleh Gabenor.


Ketika itu Gabenor menetapkan Imam Hanafi menjadi Pengetua jawatan Sekretari Gabenor. Tugasnya adalah bertanggungjawab terhadap keluar masuk wang negara. Gabenor dalam memutuskan jawatan itu disertai dengan sumpah, “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu nescaya beliau akan dihukum dengan pukulan.”

Walaupun ada ancaman seperti itu, Imam Hanafi tetap menolak jawatan itu, bahkan beliau tetap tegas, bahawa beliau tidak mahu menjadi pegawai kerajaan dan tidak mahu campur tangan dalam urusan negara.

Kerana sikapnya itu, akhirnya beliau ditangkap oleh Gabenor. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu tetapi tidak dipukul. Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan.Setelah itu baru dibebaskan. Beberapa hari selepas itu, Gabenor menawarkan beliau untuk menjadi kadi, juga ditolaknya. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. Setiap hari beliau didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Sampailah beliau dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan.

Akibat dari pukulan itu muka dan seluruh badannya menjadi bengkak-bengkak. Hukuman cambuk itu sengaja untuk menghina Imam Hanafi. Walaupun demikian ketika Imam Hanafi diseksa beliau sempat berkata. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti.” Ketika beliau berusia lebih dari 50 tahun, ketua negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. Imam Hanafi juga menerima ujian. Kemudian pada tahun 132 H sesudah dua tahun dari hukuman tadi terjadilah pergantian pimpinan negara, dari keturunan Umaiyyah ke tangan Abbasiyyah, ketua negaranya bernama Abu Abbas as Saffah.

Pada tahun 132 H sesudah Abu Abbas meninggal dunia diganti dengan ketua negara yang baru bernama Abi Jaafar Al-Mansur, saudara muda dari Abul Abbas as Saffah. Ketika itu Imam Abu Hanifah telah berumur 56 tahun. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani. Ahli fikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan.

Suatu hari Imam Hanafi mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur di Baghdad, supaya beliau datang mengadap ke istana. Sesampainya beliau di istana Baghdad beliau ditetapkan oleh baginda menjadi kadi (hakim) kerajaan Baghdad. Dengan tawaran tersebut, salah seorang pegawai negara bertanya: “Adakah guru tetap akan menolak kedudukan baik itu?” Dijawab oleh Imam Hanafi “Amirul mukminin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya.”

Kerana beliau masih tetap menolak, maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad. Pada saat itu para ulama yang terkemuka di Kufah ada tiga orang. Salah seorang daripadanya ialah Imam Ibnu Abi Laila. Ulama ini sejak pemerintahan Abu Abbas as Saffah telah menjadi mufti kerajaan untuk kota Kufah. Karena sikap Imam Hanafi itu, Imam Abi Laila pun dilarang memberi fatwa.

Pada suatu hari Imam Hanafi dikeluarkan dari penjara kerana mendapat panggilan dari Al-Mansur, tetapi beliau tetap menolak. Baginda bertanya, “Apakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?”
Dijawab oleh Imam Hanafi: “Wahai Amirul Mukminin semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin. Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, janganlah bersekutu dalam kepercayaan dengan orang yang tidak takut kepada Allah. Demi Allah saya bukanlah orang yang boleh dipercayai di waktu tenang, maka bagaimana saya akan dipercayai di waktu marah, sungguh saya tidak sepatutnya diberi jawatan itu.”

Baginda berkata lagi: “Kamu berdusta, kamu patut dan sesuai memegang jawatan itu.” Dijawab oleh Imam Hanafi: “Amirul Mukminin, sungguh baginda telah menetapkan sendiri, jika saya benar, saya telah menyatakan bahawa saya tidak patut memegang jawatan itu. Jika saya berdusta, maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang maulana yang dipandang rendah oleh bangsa Arab. Bangsa Arab tidak akan rela diadili seorang golongan hakim seperti saya.”

Pernah juga terjadi, baginda Abu Jaffar Al-Mansur memanggil tiga orang ulama besar ke istananya, iaitu Imam Abu Hanifah, Imam Sufyan ats Tauri dan Imam Syarik an Nakhaei. Setelah mereka hadir di istana, maka ketiganya ditetapkan untuk menduduki pangkat yang cukup tinggi dalam kenegaraan, masing-masing diberi surat pelantikan tersebut.

Imam Sufyan ats Tauri diangkat menjadi kadi di Kota Basrah, lmam Syarik diangkat menjadi kadi di ibu kota. Adapun Imam Hanafi tidak mahu menerima pengangkatan itu di manapun beliau diletakkan. Pengangkatan itu disertai dengan ancaman bahawa siapa saja yang tidak mahu menerima jawatan itu akan didera sebanyak l00 kali deraan.

Imam Syarik menerima jawatan itu, tetapi Imam Sufyan tidak mahu menerimanya, kemudian beliau melarikan diri ke Yaman. Imam Abu Hanifah juga tidak mahu menerimanya dan tidak pula berusaha melarikan diri.

Oleh sebab itu Imam Abu Hanifah dimasukkan kembali ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman sebanyak 100 kali dera. Setiap pagi dipukul dengan cambuk sementara dileher beliau dikalung dengan rantai besi yang berat.

Suatu kali Imam Hanafi dipanggil baginda untuk mengadapnya. Setelah tiba di depan baginda, lalu diberinya segelas air yang berisi racun. Ia dipaksa meminumnya. Setelah diminum air yang beracun itu Imam Hanafi kembali dimasukkan ke dalam penjara. Imam Hanafi wafat dalam keadaan menderita di penjara ketika itu ia berusia 70 tahun.

Imam Hanafi menolak semua tawaran yang diberikan oleh kerajaan daulah Umaiyyah dan Abbasiyah adalah kerana beliau tidak sesuai dengan corak pemerintahan yang mereka kendalikan. Oleh sebab itu mereka berusaha mengajak Imam Hanafi untuk bekerjasama mengikut gerak langkah mereka, dan akhirnya mereka diseksa hingga meninggal, kerana Imam Hanafi menolak semua tawaran yang mereka berikan.

Followers